Jumat, 13 Maret 2015


 
keluarga X-A.Man 1 Garut

Setelah lulus dari MTs ,aku akan melanjutkan sekolah kejenjang lebih tinggi yaitu tingkatan Pada awalnya orang tuaku memerinta kan aku untuk bekerja.Namun,karena aku tidak mau dan dengan dorongan dari  guru-guruku maka akhirnya aku bersekolah di MAN 1 GARUT dengan mengikuti tes dan syarat syarat lainnya.Oleh Karena jarak sekolah dengan rumahku sangat jauh maka aku putuskan untuk tinggal di pesantren,meski lara hati berat untuk menerima,karena kebersamaanku dengan keluarga terkasih kami jalani hubungan yang Indah tanpa batas durasi.Belasan tahun aku hidup bersama keluargaku,sehingga sangat berat hati ini menerima, namun demi masa depan hidupku yang lebih baik aku pun rela untuk tinggal di pesantren.Karena pesantren itu tempat guru-guruku dulu dan beliau kini telah sukses mendirikan sekolah yang saya tempati ketika MTs yaitu”MTs AL-FATWA” dan saya pun ingin sukses seperti beliau .

Hari pertama aku masuk pesantren aku diantar oleh ibu dan guruku untuk menitipkanku kepesantren.Setelah ibu dan guruku pulang aku pun masuk ke kobong yang akan menjadi tempat tinggalku yang baru,yaitu kobong no.4.karena aku belum mengenal semua yang ada di pesantren itu maka setiap waktu aku habiskan berdiam diri diatas kobong / tempat menjemur pakaian.Nah,dari sanalah saya berpikir hidup jauh dengan orang tua itu sangat susah,walaupun aku sudah terbiasa jauh dari orang tuaku karena ibuku seorang TKI dan ayahku seorang pedagang,tapi aku merasa ini lebih susah dan sakit.Di pesantren aku harus mandiri,mencuci pakaian sendiri,menjemur sendiri,menyiapkan makanan sendiri dan semuanya serba sendiri.

Setelah beberapa hari tinggal di pesantren,aku pun merasakan kerinduan terhadap keluargaku,aku pun sering menangis dan sesekali aku ingin pulang ke kampung halaman dan bertemu dengan keluarga dan teman-teman,walaupun aku tidak bisa bertemu dengan ibu dan ayahku setidaknya aku masih punya nenek dan kakek tercinta dan seorang adik perempuan.

Suatu hari,tepatnya hari minggu yang berarti sekolah libur sekolah,setelah aku menyelesaikan semua pekerjaanku.Mulai dari mencuci pakaian seragam,sarung dan yang lainnya aku pergi keatas kobong (merupakan tempat yang sering aku gunakan untuk menyepi).Ketika itu entah kenapa aku ingat keluargaku,akupun menangis tersedu-sedu .Ketika aku sedang menangis lalu dating temanku yang sering di sebut Mang Syahid.Dia melihat mataku yang meneteskan air mata dan membanjiri pipiku dan dia pun tahu bahwa aku ini sedang bersedih ,kemudian dia menghampiriku dan berkata”kamu kangen kepada keluargamu,ya?” akupun menjawab “ya”tanpa bicara melainkan hanya dengan menganggukan kepala saja,lalu dia pun berkata”ya,akupun dulu merasakan hal yang sama denganmu.Dulu akupun merasa bahwa oroang tuaku tidak sayang kepadaku,namun sebenarnya mereka memasukan ku kepesantren ini adalah merupakan  yang terbaik untuk kita dan merekapun sayang terhadap kita.

Beberapa bulan kemudian,aku merasakan kekerabatan yang sangat baik seperti keluargaku, bahkan aku pun menganggap mereka sebagian dari hidupku dan satuhal yang membuat aku betah di pesantren ini adalah sikap zuhud dan kekeluargaan yang membuat aku menjadi betah .Sewaktu pertama kali,aku tinggal di pesantren benar-benar dech,serasa berada di “dunia lain”aku yang tidak  biasa makan sepiring bahkan menggunakan plastik ,aku yang tidak biasa mencuci pakaian sendiri,aku yang tak biasa masak sendiri,merasakan ini sebagai sebuah paksaan,tetapi setelah beberapa bulan aku tinggal di pesantren aku bisa merasakan  betapa nikmatnya hidup di pesantren,seakan selalu mengingat akhirat dan berlomba-lomba dalam kebaikan ..Insya Allah,,yaa Allah

Namun, dibalik semua itu tidak semua anak yang dimasukan kedalam pesantren oleh orang tuanya benar-benar baik,ada juga anak yang memang nakal dan tujuan orang tuanya memasukan kedalam pesantren adalah agar dia dapat terwarnai oleh tema-temannya yang sholeh-sholehah, tetapi terkadang kehadiran santri”Bengal”ini justru mewarnai teman-temannya agar menjadi nakal seperti dirinya.
           
Dan aku merasakan ada saja ulah santri yang terkadang mereka tanpa rasa takut,ada juga dengan bangga menyanyikan lagu-lagu yang “kurang sopan”seperti dangdutan dan lain sebagainya.Ada juga yang selalu menyalahkan teman-temannya menganggap dirinya paling benar ,ada juga yang selalu mencari-cari kesalahan orang lain,ada yang cuek ,dan yang lebih parah dunia pesantren identik dengan penyakit kulit..he..he…Kalau salah satu sudah terkena pasti di jamin yang lainnya akan terkena juga,,waduhh.ngeri,.,.,ada-ada saja kejadiannya,.Ya,inilah kehidupan pesantren. Kita harus bisa membedakan yang baik dan yang benar.Karena semua  itu adalah proses kita sebagai manusia dalam hidup.
           
Pengalaman yang seru di pesantren sungguh menyimpankenangan yang termanis yang sangat dalam.Ada kebanggaan tersendiri saat menjadi santri .Maka dari sinilah aku belajar untuk menempuh hidup di kemudian hari dan merupakan suatu lembaran baru yang akan menjadi awal dari kehidupanku di masa depan,dan lembaran baru itu aku mulai sejak aku berpisah dengan keluargaku dan tinggal di pesantren..





1 komentar:

  1. Dalam cerita ini membuat saya salut kepada perjalanan hidup anda ;)

    BalasHapus