![]() |
| keluarga X-A.Man 1 Garut |
Setelah lulus dari MTs ,aku akan melanjutkan sekolah kejenjang lebih tinggi yaitu tingkatan Pada awalnya orang tuaku memerinta kan aku untuk bekerja.Namun,karena aku tidak mau dan dengan dorongan dari guru-guruku maka akhirnya aku bersekolah di MAN 1 GARUT dengan mengikuti tes dan syarat syarat lainnya.Oleh Karena jarak sekolah dengan rumahku sangat jauh maka aku putuskan untuk tinggal di pesantren,meski lara hati berat untuk menerima,karena kebersamaanku dengan keluarga terkasih kami jalani hubungan yang Indah tanpa batas durasi.Belasan tahun aku hidup bersama keluargaku,sehingga sangat berat hati ini menerima, namun demi masa depan hidupku yang lebih baik aku pun rela untuk tinggal di pesantren.Karena pesantren itu tempat guru-guruku dulu dan beliau kini telah sukses mendirikan sekolah yang saya tempati ketika MTs yaitu”MTs AL-FATWA” dan saya pun ingin sukses seperti beliau .
Hari
pertama aku masuk pesantren aku diantar oleh ibu dan guruku untuk menitipkanku
kepesantren.Setelah ibu dan guruku pulang aku pun masuk ke kobong yang akan
menjadi tempat tinggalku yang baru,yaitu kobong no.4.karena aku belum mengenal
semua yang ada di pesantren itu maka setiap waktu aku habiskan berdiam diri
diatas kobong / tempat menjemur pakaian.Nah,dari sanalah saya berpikir hidup
jauh dengan orang tua itu sangat susah,walaupun aku sudah terbiasa jauh dari
orang tuaku karena ibuku seorang TKI dan ayahku seorang pedagang,tapi aku
merasa ini lebih susah dan sakit.Di pesantren aku harus mandiri,mencuci pakaian
sendiri,menjemur sendiri,menyiapkan makanan sendiri dan semuanya serba sendiri.
Setelah
beberapa hari tinggal di pesantren,aku pun merasakan kerinduan terhadap
keluargaku,aku pun sering menangis dan sesekali aku ingin pulang ke kampung
halaman dan bertemu dengan keluarga dan teman-teman,walaupun aku tidak bisa
bertemu dengan ibu dan ayahku setidaknya aku masih punya nenek dan kakek
tercinta dan seorang adik perempuan.
Suatu
hari,tepatnya hari minggu yang berarti sekolah libur sekolah,setelah aku
menyelesaikan semua pekerjaanku.Mulai dari mencuci pakaian seragam,sarung dan
yang lainnya aku pergi keatas kobong (merupakan tempat yang sering aku gunakan
untuk menyepi).Ketika itu entah kenapa aku ingat keluargaku,akupun menangis tersedu-sedu
.Ketika aku sedang menangis lalu dating temanku yang sering di sebut Mang
Syahid.Dia melihat mataku yang meneteskan air mata dan membanjiri pipiku dan dia
pun tahu bahwa aku ini sedang bersedih ,kemudian dia menghampiriku dan berkata”kamu
kangen kepada keluargamu,ya?” akupun menjawab “ya”tanpa bicara melainkan hanya dengan
menganggukan kepala saja,lalu dia pun berkata”ya,akupun dulu merasakan hal yang
sama denganmu.Dulu akupun merasa bahwa oroang tuaku tidak sayang kepadaku,namun
sebenarnya mereka memasukan ku kepesantren ini adalah merupakan yang terbaik untuk kita dan merekapun sayang
terhadap kita.
Beberapa bulan
kemudian,aku merasakan kekerabatan yang sangat baik seperti keluargaku, bahkan aku
pun menganggap mereka sebagian dari hidupku dan satuhal yang membuat aku betah
di pesantren ini adalah sikap zuhud dan kekeluargaan yang membuat aku menjadi
betah .Sewaktu pertama kali,aku tinggal di pesantren benar-benar dech,serasa berada
di “dunia lain”aku yang tidak biasa makan
sepiring bahkan menggunakan plastik ,aku yang tidak biasa mencuci pakaian sendiri,aku
yang tak biasa masak sendiri,merasakan ini sebagai sebuah paksaan,tetapi setelah
beberapa bulan aku tinggal di pesantren aku bisa merasakan betapa nikmatnya hidup di pesantren,seakan selalu
mengingat akhirat dan berlomba-lomba dalam kebaikan ..Insya Allah,,yaa Allah
Namun, dibalik semua itu tidak semua anak
yang dimasukan kedalam pesantren oleh orang tuanya benar-benar baik,ada juga anak
yang memang nakal dan tujuan orang tuanya memasukan kedalam pesantren adalah
agar dia dapat terwarnai oleh tema-temannya yang sholeh-sholehah, tetapi terkadang
kehadiran santri”Bengal”ini justru mewarnai teman-temannya agar menjadi nakal seperti
dirinya.
Dan aku merasakan
ada saja ulah santri yang terkadang mereka tanpa rasa takut,ada juga dengan bangga
menyanyikan lagu-lagu yang “kurang sopan”seperti dangdutan dan lain sebagainya.Ada
juga yang selalu menyalahkan teman-temannya menganggap dirinya paling benar
,ada juga yang selalu mencari-cari kesalahan orang lain,ada yang cuek ,dan yang
lebih parah dunia pesantren identik dengan penyakit kulit..he..he…Kalau salah satu
sudah terkena pasti di jamin yang lainnya akan terkena juga,,waduhh.ngeri,.,.,ada-ada
saja kejadiannya,.Ya,inilah kehidupan pesantren. Kita harus bisa membedakan
yang baik dan yang benar.Karena semua itu
adalah proses kita sebagai manusia dalam hidup.
Pengalaman
yang seru di pesantren sungguh menyimpankenangan yang termanis yang sangat dalam.Ada
kebanggaan tersendiri saat menjadi santri .Maka dari sinilah aku belajar untuk menempuh
hidup di kemudian hari dan merupakan suatu lembaran baru yang akan menjadi awal
dari kehidupanku di masa depan,dan lembaran baru itu aku mulai sejak aku berpisah
dengan keluargaku dan tinggal di pesantren..

Dalam cerita ini membuat saya salut kepada perjalanan hidup anda ;)
BalasHapus